Minggu, 30 Mei 2010

PERCIKAN-PERCIKAN PEMIKIRAN MASKULINISME [prt 1]


PUZZLE I
Perkembangan jiwa manusia:
1. Individu
2. Keluarga
3. Suku
4. Bangsa
5. Semesta

Manusia merupakan representasi alam semesta, yang padanya terdapat kualitas-kualitas alam. Tubuh secara fisik manusia merupakan alam mikro, karena dalam tubuh tersebut terdapat zat, sifat dan perbuatan alam yang terdiri dari; batu-batu, tambang-tambang, tumbuh-tumbuhan dan binatang. Manusia dan alam tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pembahasan tentang manusia, tidak akan pernah lengkap jika tidak membahas alam. Jika manusia rusak, baik dalam hal berpikir, berbicara maupun bertindak, maka alam pun akan rusak pula. Demikian sebaliknya, jika alam telah rusak maka manusia pun tidak akan pernah baik.

Adalah fitrah bagi manusia melakukan gerak menuju kesempurnaan. Setiap gerak dalam kehidupan yang dilakukan manusia, niscaya menuju kesempurnaan yang sesuai dengan kapasitas dan kemampuan berfikir atau pola fikirnya. Gerak berarti mengaktualnya realitas potensial karena pengaruh faktor eksternal. Jadi, apapun yang dilakukan manusia pastilah hal tersebut merupakan gerak.

Dalam diri manusia, terdapat substansi jiwa barzah, yaitu jiwa individu dan jiwa masyarakat. Keduanya bukanlah jiwa yang terpisah satu sama lain, tetapi merupakan kualitas-kualitas jiwa itu sendiri yang tidak terpisah dan tidak dapat dipisahkan, karena merupakan satu kesatuan yang utuh. Jika salah satunya hilang atau sengaja dihilangkan dari diri manusia, maka tidaklah lengkap dan tidak akan pernah lengkap jiwa manusia itu.

Pada mulanya manusia itu memiliki jiwa, ego atau sifat individu, yang secara etimologi terdiri dari "in" yang berarti “di dalam” atau “tidak” dan "divide" yang berarti “pecah” atau “terbagi”. Jadi manusia itu dikatakan individu karena ia tidak terbagi. Ini merupakan definisi kapitalistik, karena definisi ini mengharuskan manusia hanya berbuat untuk dirinya sendiri. Jiwa masyarakat belum mengaktual di sini. Jika hanya “ego” individu ini yang ada dalam diri manusia, tanpa dikembangkan, sangat berbahaya, karena asal-muasal konflik bermula di sini, disebabkan oleh manusia-manusia yang egosentris dan cinta diri sendiri. Dalam ego individu ini, ada potensi ego keluarga, karena ada faktor eksternal, barulah bisa mengaktual potensi dari ego keluarga tersebut.

Setelah “ego” individu (potensial), muncul “ego” keluarga (aktual). Manusia sudah mulai melihat bahwa selain dirinya ada manusia lain (factor eksternal) yang harus diperhatikan. Manusia yang sudah punya “ego” keluarga, memiliki potensi ego masyarakat. Dalam ego keluarga, manusia sudah punya rasa cinta terhadap orang lain dan cenderung untuk berbuat baik. Ego keluarga ini juga perlu dikebangkan, sebab ketika “ego” keluarga bergesekan dengan “ego” keluarga yang lain, juga akan menimbulkan konflik, yaitu konflik antar keluarga. Untuk itu, tahapan selanjutnya adalah mengembangkan potensi ego masyarakat atau kesukuan untuk mengaktual, jika tidak dikembangkan, ini juga berbahaya, karena bisa menimbulkan konflik antar suku.

Dalam ego masyarakat ini, ada potensi ego kebangsaan atau bisa juga disebut nasionalisme untuk mengaktual. Jika hanya sampai di sini, juga berbahaya karena bisa menimbulkan perang antar bangsa, seperti Perang Dunia I dan II. Dalam ego kebangsaan atau nasionalisme ada potensi ego kesemestaan atau internasionalisme untuk mengaktual. Perkembangan terakhir dari jiwa manusia adalah ego kesemestaan atau bisa juga disebut ego internasionalisme.

Jadi, secara ringkas, perkembangan jiwa manusia itu adalah; individu atau individualisme, keluarga atau familisme, kesukuan atau chauvinisme, kebangsaan atau nasionalisme dan kesemestaan atau internasionalisme. Jika salah satu dari lima jiwa ini tidak ada dalam diri manusia, niscaya belumlah lengkap kemanusiaannya, dengan kata lain, belum bisa dikatakan sebagai manusia atau manusia yang setengah-setengah, manusia yang belum lengkap. Manusia seperti ini belumlah pantas menjadi khalifah di bumi Tuhan ini. Sebaliknya, yang memiliki kelima jiwa di atas, inilah yang disebut dengan Insan Kamil atau Manusia Paripurna.

Referensi:
Manusia dan Alam Semesta (Murtadha Muthahhari)
Materialisme – Dialektika – Logika (MADILOG) (Tan Malaka)

***
PUZZLE II
Rasionalisme dan Idealisme yang dipelopori oleh Rene Descartes melalui jargonnya yang sangat terkenal: “cogito ergo sum” (Aku berpikir maka Aku ada) merupakan peletak awal dari Eksistensialisme melalui pemikirnya Jean Paul Sartre. Eksistensialisme ini secara psikologi akan mengantarkan manusia kepada Individualisme, karena yang diutamakan di sini adalah kebebasan individu yang hanya dibatasi oleh kebebasan individu lainnya. Kenapa Eksistensialisme berbahaya? Karena batas kebebasan antara Individu satu dangan Individu lainnya tidaklah jelas, sangat kabur & berpotensi menimbulkan konflik yang menyesatkan. Bentuk nyata secara radikal dari eksistensialisme ini akan membuat para eksistensialis masuk ke dalam ruangan individu yang bernama egosentris, sombong, iri, dengki arogan (melalui pernyataan: Mahabenar Saya dengan segala Firman Saya- begitulah kira-kira pernyataan Para Penganut Eksistensialisme secara radikal sehingga tidak memberikan ruang untuk berdialog dengan Individu lain) dan lain sebagainya. Secara filosofis, penyebab dari semua ini adalah "Kontradiksi Internal" yang dipicu oleh pemikiran akan eksistensi diri itu sendiri. Hal ini sangat kontradiktif dengan perkembangan jiwa manusia di atas.

Secara alamiah, eksistensialisme individu ini tidaklah salah karena inilah awal dari semua eksistensi Homo Sapiens (makhluk yang berpikir). Hanya saja, akan menjadi salah jika larut dan bertahan dengan eksistensi diri ini.

Eksistensialisme individu ini belumlah sempurna, karena masih terbatas oleh ruang pribadi. Itulah sebabnya mesti dikembangkan menjadi Eksistensi Keluarga. Perkembangan berikutnya secara berturut-turut adalah; Eksistensi Suku, Eksistensi Bangsa dan Eksistensi Semesta.

Referensi: Falsafatuna (Muhammad Baqir Ash Sadr)
Masyarakat dan Sejarah (Murtadha Muthahhari)
***

PUZZLE III
Jika dicermati, realitas sosial di sekitar Kita saat ini – yang terkait dengan – eksistensialisme individu, terdapat banyak penyimpangan-penyimpangan perilaku (Patologi Behavioral) dari ke lima tahap perkembangan jiwa menurut Murtadha Muthahhari di atas. Sebagai contoh kasus adalah: Fenomena Patah Hati Generasi Muda.

Adalah sebuah ketidaksalahan secara fitrah, bahwa ketika individu itu mulai berpikir bahwa: “ternyata ada manusia lain yang mesti diperhatikan selain dirinya, khususnya yang berlainan jenis kelamin”. Hal ini membuktikan bahwa individu tersebut mulai memasuki tahap ke dua dari perkembangan jiwa, yaitu Keluarga. Sebentuk dorongan secara alamiah dari dalam jiwa untuk Berkeluarga.

Individu pertama mengungkapkan kepada individu kedua (yang berlainan jenis kelamin) bahwasanya Ia menyukai, menyayangi dan mencintai serta ingin hidup bersama dengan individu lain tersebut di sisa usianya. Dalam hal ini, ada baiknya Kita ambil percontohan lain dari fenomena Pancaroba atau Pubertas yang berasal dari pandangan dunia “Atheistik” ini, yaitu; Keinginan Untuk Berpacaran.

Permasalahan muncul ketika Calon Pacar (individu kedua) tidak memiliki keinginan yang sama dengan individu pertama tadi, dengan kata lain, Cinta Ditolak atau Cinta Bertepuk Sebelah Tangan. Akibatnya terjadi goncangan jiwa yang hebat, ketika apa yang diinginkan bertolak belakang dengan apa yang terjadi; kontradiksi antara das solen dengan das sein. Hal ini diistilahkan dengan “Jiwa Goncang” (JiGon).

Secara umum, JiGon dikenal dengan istilah “Patah Hati”. Patah hati ini bisa dialami oleh siapa pun (baik tua maupun muda), tentu saja atas sebab-sebab tertentu melalui Hukum Kausalitas. Untuk melengkapi argumentasi awal, Penulis akan mengambil sampel dari sebuah populasi yang berasal dari Perguruan Tinggi Negeri terkenal di Sumatera Bagian Barat, tepatnya: Jurusan Ilmu PatahHati (IP), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PatahHati (FISIP), Universitas Anak Dungu (Unand). Mulai dari angkatan 1999 sampai 2008. Sengaja diambil sampel seperti ini, karena Fenomena Patah Hati telah membuat generasi muda merusak citra, harga diri, harkat, martabat dan tanggung jawab generasi muda yang lainnya. Sepuluh angkatan ini terpilih atas dasar pemilihan sampel secara random, yaitu setiap populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel.

Kepatahhatian ini memiliki dampak yang luar biasa terhadap stabilitas aktivitas akademik individu (dalam hal ini mahasiswa/i). Ia larut dengan eksistensi individu yang belum bisa diaktualkannya menjadi eksistensi “keluarga”. Efek Psikologis dan Fisis dari Patah Hati akan merusak akal, pola pikir, logika, menghabiskan kalori, menyita waktu, lemah, letih, lesu, lebay, menurunkan berat badan atau bahkan menambah berat badan melalui penumpukan kalori, menurunkan semangat hidup dan lain sebagainya. Yang paling parah, Si pengidap Patah Hati ini akan menderita suatu penyakit jiwa Neurosis Obsessional, – menurut Sigmund Freud, seorang psikoanalisa – ,..penyakit khususnya Skizofrenia Akut, sedangkan menurut Penulis; inilah yang dinamakan dengan GILA. Penyakit berhalusinasi terus menerus yang hanya bisa disembuhkan melalui Therapy Psikologi oleh Dokter Spesialis Penyakit Jiwa.

Secara Sosiologis, penyakit patah hati ini mengakibatkan keputusasaan, menurut Emile Durkheim, seorang Sosiolog, secara radikal, akan membuat seseorang melakukan BUNUH DIRI SECARA DINI dengan sebab-sebab yang tidak bisa dijelaskan secara rasional (irasional). Bunuh diri secara dini ini akan menghambat perubahan sosial di masyarakat. Menghambat revolusi intelektual, menghambat revolusi struktural dan menghambat revolusi sektoral kehidupan bangsa yang sampai saat ini masih dijajah melalui Imperialisme. Secara radikal, Penulis mengatakan bahwa Generasi Patah hati ini merupakan SAMPAH MASYARAKAT!!! Eits, tunggu dulu, sampah yang dimaksud bukannya tidak berguna sama sekali, tetapi akan berguna jika DILAKUKAN DAUR ULANG secara Psikologis.

Kita tahu bahwa Indonesia saat ini membutuhkan generasi muda yang tangguh secara jiwa dan tangguh secara fisik, hal ini diwacanakan dalam rezim developmentalisme Orde Baru Soeharto melalui semboyan: “di dalam jiwa yang sehat, terdapat pikiran dan fisik yang sehat”. Bagaimana bangsa ini bisa melakukan transformasi ke arah yang lebih baik dari saat ini jika Generasi Mudanya, yang notabene adalah Generasi Penerus Estafet Perubahan Bangsa masih larut dengan ego individunya yang PATAH HATI.

Referensi: Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda (George Rietzer)