
Komunitas dan Kepemimpinan, Belajar dari Al Mawardi
“Kepemimpinan adalah suatu keniscayaan, tanpa kepemimpinan maka dinamika sosial akan menjadi chaos. Manusia menjadi tidak bermartabat, begitu juga suatu bangsa menjadi tidak berharga.”
Oleh sebab itu, manusia-manusia yang berhakikat makhluk individual dan makhluk sosial membutuhkan kehidupan bersama yang membutuhkan ikatan sosial. Ikatan sosial itu apapun bentuknya dibutuhkan untuk:
1. Mendefinisikan persoalan dan permasalahan setiap individu yang mungkin memiliki kesamaan dan akhirnya akan menjadi persoalan dan permasalahan bersama. Permasalahan yang sama dari setiap individu tersebut kemudian didefinisikan sebagai permasalahan sosial.
2. Ketika permasalahan sosial telah didefinisikan, maka dibutuhkan solusi atau pemecahan permasalahan sosial tersebut. Proses pencarian solusi bisa saja dilakukan secara individual maupun secara sosial/bersama-sama. Termasuk kemudian tindakan solutif atas permasalahan sosial tersebut juga bisa secara individual maupun secara sosial/bersama-sama.
3. Jika pilihan untuk menyelesaikan berbagai persoalan atau permasalahan dilakukan secara sosial/bersama-sama, maka pada saat itulah dibutuhkan seorang pemimpin.
Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana melahirkan sosok pemimpin yang mampu “dibebani” tugas kepemimpinan agar orang-orang yang dipimpinnya beralih situasi kondisinya menjadi lebih baik?
Pertama, dia dipilih. Siapa yang memilih? Jika kepemimpinan yang hendak dimunculkan adalah kepemimpinan pertama kalinya, tentu yang memilihnya adalah setiap orang-orang yang terlibat dalam sebuah “kerumunan” tersebut. Jika kemudian “kerumunan” tersebut telah menjadi besar dan terlembaga dengan baik, bisa jadi akan dibutuhkan lembaga perwakilan atau yang saat ini dikenal dengan istilah “parlemen”.
Kedua, ditunjuk oleh pemimpin sebelumnya. Tentu saja jika yang kedua ini di-amin-i.
“Kerumunan” orang-orang dalam tulisan ini kemudian disebut “komunitas”. Komunitas adalah sebuah kesatuan orang-orang yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang memiliki otoritas penuh, baik yang didapat lewat proses suksesi maupun proses pemilihan.
Hubungan antara pemimpin komunitas dan anggotanya, dalam kaitan ini adalah, hubungan kontrak yang diikat dalam sebuah perjanjian. Perjanjian bisa dilakukan secara umum di hadapan seluruh anggota maupun dilakukan di depan majelis (wakil anggota) yang juga dikenal sebagai lembaga pengangkat dan pembubar.
(Dari berbagai sumber)
Oleh : Virtuous Setyaka
“Kepemimpinan adalah suatu keniscayaan, tanpa kepemimpinan maka dinamika sosial akan menjadi chaos. Manusia menjadi tidak bermartabat, begitu juga suatu bangsa menjadi tidak berharga.”
Oleh sebab itu, manusia-manusia yang berhakikat makhluk individual dan makhluk sosial membutuhkan kehidupan bersama yang membutuhkan ikatan sosial. Ikatan sosial itu apapun bentuknya dibutuhkan untuk:
1. Mendefinisikan persoalan dan permasalahan setiap individu yang mungkin memiliki kesamaan dan akhirnya akan menjadi persoalan dan permasalahan bersama. Permasalahan yang sama dari setiap individu tersebut kemudian didefinisikan sebagai permasalahan sosial.
2. Ketika permasalahan sosial telah didefinisikan, maka dibutuhkan solusi atau pemecahan permasalahan sosial tersebut. Proses pencarian solusi bisa saja dilakukan secara individual maupun secara sosial/bersama-sama. Termasuk kemudian tindakan solutif atas permasalahan sosial tersebut juga bisa secara individual maupun secara sosial/bersama-sama.
3. Jika pilihan untuk menyelesaikan berbagai persoalan atau permasalahan dilakukan secara sosial/bersama-sama, maka pada saat itulah dibutuhkan seorang pemimpin.
Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana melahirkan sosok pemimpin yang mampu “dibebani” tugas kepemimpinan agar orang-orang yang dipimpinnya beralih situasi kondisinya menjadi lebih baik?
Pertama, dia dipilih. Siapa yang memilih? Jika kepemimpinan yang hendak dimunculkan adalah kepemimpinan pertama kalinya, tentu yang memilihnya adalah setiap orang-orang yang terlibat dalam sebuah “kerumunan” tersebut. Jika kemudian “kerumunan” tersebut telah menjadi besar dan terlembaga dengan baik, bisa jadi akan dibutuhkan lembaga perwakilan atau yang saat ini dikenal dengan istilah “parlemen”.
Kedua, ditunjuk oleh pemimpin sebelumnya. Tentu saja jika yang kedua ini di-amin-i.
“Kerumunan” orang-orang dalam tulisan ini kemudian disebut “komunitas”. Komunitas adalah sebuah kesatuan orang-orang yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang memiliki otoritas penuh, baik yang didapat lewat proses suksesi maupun proses pemilihan.
Hubungan antara pemimpin komunitas dan anggotanya, dalam kaitan ini adalah, hubungan kontrak yang diikat dalam sebuah perjanjian. Perjanjian bisa dilakukan secara umum di hadapan seluruh anggota maupun dilakukan di depan majelis (wakil anggota) yang juga dikenal sebagai lembaga pengangkat dan pembubar.
(Dari berbagai sumber)
Oleh : Virtuous Setyaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar